TERNATE, FORES INDONESIA-Tragedi kemanusiaan kembali merobek hati warga Loloda. Seorang guru SD inisial MP (68 Tahun) asal Desa Ngajam mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan rujukan dari Puskesmas Darume ke RSUD Tobelo perjalanan yang semestinya memakan waktu tiga jam namun berubah menjadi delapan jam penuh pertaruhan nyawa akibat kondisi jalan yang porak-poranda.
Kabut duka menyelimuti Loloda. Masyarakat menilai keterisolasian wilayah mereka telah lama berubah menjadi bom waktu yang akhirnya meledak, memakan korban jiwa yang tak seharusnya jatuh.
Akademisi Universitas Khairun sekaligus putra daerah Loloda, Hendra Karianga, menyampaikan jeritan warga melalui surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Dalam surat itu, ia menuding gagalnya pemerintah daerah menunaikan kewajiban dasar terhadap infrastruktur sebagai biang keladi hilangnya nyawa sang guru.
“Daerah ini terisolir bertahun-tahun, tidak tersentuh pembangunan yang layak. Ketika musim hujan atau angin kencang, masyarakat tidak dapat beraktivitas. Bahkan untuk mendapatkan layanan kesehatan saja harus menempuh perjalanan mematikan,” ungkap Hendra.
Loloda, yang terbagi dalam empat kecamatan di dua kabupaten Halmahera Utara dan Halmahera Barat barat halaman belakang yang dilupakan.
Puluhan tahun setelah kemerdekaan, akses jalan masih berupa lumpur, kubangan, dan jalur berbahaya yang kerap memutus harapan hidup.
Dalam RPJMD dan RKPD, kata Hendra, pembangunan Loloda seperti hanya menjadi catatan pinggir, disebut tapi tak pernah sungguh diberi prioritas. Warga tetap melaju di jalanan hancur yang menjerat ekonomi, menutup akses kesehatan, dan mengunci masa depan.
Ia juga mengkritik praktik eksploitasi anggaran daerah yang tak berbanding lurus dengan kebutuhan rakyat.
“Bagaimana mungkin rakyat miskin, tapi APBD ratusan miliar justru disalahgunakan pejabat untuk kepentingan pribadi dan kroninya?” tegasnya.
Kondisi ini, lanjut Hendra, menciptakan kemiskinan struktural yang turun-temurun, merampas kesempatan hidup layak bagi masyarakat Loloda.
Atas semua itu, warga mendesak Presiden Prabowo turun tangan langsung. Mereka berharap pemerintah pusat mengambil alih penanganan infrastruktur dasar, terutama akses jalan menuju pusat kesehatan dan ekonomi, sebelum lebih banyak nyawa melayang hanya karena kelalaian pembangunan.
“Loloda adalah bagian sah dari NKRI. Kami hanya ingin keadilan dan kesejahteraan yang sama seperti saudara-saudara kami di tempat lain,” kata Hendra.
Tragedi kematian sang guru menjadi simbol luka kolektif yang tak boleh dibiarkan membeku. Warga berharap, jeritan mereka akhirnya benar-benar sampai ke telinga presiden dan tidak berhenti sebagai rintihan yang hilang di tikungan jalan rusak Loloda.(Tim)
