Ternate, FORES INDONESIA- Sinergi itu Energi. Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Rizal Marsaoly, Sang Birokrat Muda, saat langkahnya menelusuri kota membawanya ke sebuah rumah yang menyimpan segudang sejarah. Bak mencari sumber mata air di tengah gersangnya realita birokrasi, Rizal menyambangi sang legenda sekaligus tokoh rekonsiliasi Maluku Utara, siapa lagi jika bukan Drs. H. Thaib Armaiyn.
Sepintas, rumah berlantai dua itu terlihat sepih, diam dalam kesunyiannya. Namun, di balik kesederhanaan dan keheningannya, tersimpan khazanah kepemimpinan yang tak ternilai. Di sanalah sang legenda birokrat Thaib Armaiyn, menghabiskan sisa waktunya.
Mantan Gubernur Maluku Utara dua periode itu masih memancarkan kewibawaan dan ketajaman pikiran yang mengundang decak kagum.
Laksana gayung bersambut, keteduhan sore itu diselingi oleh kehadiran Rizal Marsaoly. Dengan senyum khas dan sikap santun, Sekretaris Daerah Kota Ternate ini menyalami sang sesepuh yang sedang duduk tenang di ruang keluarganya.
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Ini adalah sowan pertemuan penuh takzim seorang anak kepada orang tua, murid kepada guru, penerus kepada pendahulu.
Dengan hati lapang, Rizal mendekat. Dengan senyuman hangat, Thaib menyambut. Suasana pun berubah menjadi ruang transformasi yang sarat makna. Di satu sisi, ada Rizal, birokrat muda ‘bertangan dingin’ dengan segudang ide dan semangat membara.
Di sisi lain, ada Thaib, sang veteran birokrat yang jejak langkahnya dari Walikota Administratif Ternate hingga puncak kepemimpinan daerah telah menjadi peta perjalanan yang berharga.
Rizal lebih banyak mendengar. Ia menyimak dengan khidmat setiap wejangan yang terucap. Baginya, kata-kata Sang Legenda bukanlah nyanyian kosong, melainkan mutiara kebijaksanaan yang diteteskan dari samudera pengalaman.
“Saya melihat ngana punya potensi, apalagi memiliki latar belakang sebagai Kepala Bappeda. Artinya tau tentang perencanaan pembangunan,” ujar Thaib, membuka percakapan. Namun, pesannya kemudian menukik ke inti paling hakiki: niat. “Hanya satu yang saya mau pesan jika mau menjadi pemimpin, yaitu perbaikilah niat. Niatkanlah jabatan itu untuk kesejahteraan rayat, jangan yang lain.”
Wejangan itu mengalir deras, disertai tiga konsep kepemimpinan yang menjadi pilar bagi Thaib: Utilitas, Fasilitas, dan Sarana Prasarana. Tiga pilar nyata yang harus diwujudkan, bukan sekadar wacana.
“Pemimpin itu mulia asalkan amanah. Harus tampil sebagai solutif dan melayani. Sebagai pemimpin harus banyak menemui masyarakatnya. Dan cepat menyelesaikan masalah walaupun sekecil apapun,” tambahnya, menekankan betapa Kota Ternate masih menyimpan banyak pekerjaan rumah untuk diselesaikan.
Rizal merespons dengan rendah hati. Layaknya seorang penimba yang mengambil air jernih dari sumur tua yang dalam, ia menyerap setiap nasihat yang menyejukkan dan menghilangkan dahaga akan bimbingan. Sekali-kali ia mengangguk, matanya memancarkan hormat dan kekaguman.
Sore itu, alam seakan merestui. Hujan mengguyur Kota Ternate, membersihkan udara dan menyegarkan bumi. Dalam keheningan yang ditemani rintik hujan, dua generasi ini saling bertukar energi satu memberikan kearifan, yang lain menyimpan komitmen.
Pertemuan singkat nan berharga itu pun berakhir. Sebelum berpamitan, dengan penuh hormat, Rizal mencium tangan sang Haji. Sebuah adab yang menegaskan bahwa di puncak jabatan sekalipun, kerendahan hati di hadapan orang tua dan guru tak pernah luntur.
Pertemuan Rizal Marsaoly dan Thaib Armaiyn sore itu adalah pengingat abadi. Di tengah gelombang perubahan, estafet kepemimpinan harus dijembatani oleh nilai dan kearifan yang tak lekang waktu. Dari seorang Thaib yang telah melintasi zaman, kepada Rizal yang sedang mengukir janji pengabdian, warisan terbesar bukanlah jabatan, tetapi integritas, niat suci, dan keberpihakan yang tulus kepada rakyat. Sinergi mereka bukan sekadar energi, melainkan api yang meneruskan obor peradaban. (Tim)
