Sultan Zainal Abidin Syah Dianugerahi Pahlawan Nasional, Kapita Tahane: Inilah Sejarah yang Tak Boleh Kita Lupakan

TIDORE, FORES INDONESIA-Dalam suasana haru dan penuh kebanggaan, Kapita Tahane Asrul Rasyid Ichsan menyampaikan penghormatan mendalam kepada para leluhur Tidore, khususnya Sultan Zainal Abidin Syah, yang kini resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional.

“Kami sampaikan hormat dan terima kasih kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan yang telah menunjukkan kepedulian besar terhadap sejarah perjuangan para leluhur kita. Semoga semangat ini terus dijaga,” ujar Asrul kepada foresindonesia, Selasa (11/11/2025).

Ia menekankan pentingnya peran Kesultanan Tidore dalam menjaga nilai sejarah dan kultural di tengah arus modernisasi.

“Kami tunduk hormat kepada Suba Jou yang mulia Sultan Tidore Husain Sjah. Semoga keberkahan dan kebijaksanaan selalu menyertai beliau dalam menjaga warisan Kesultanan Tidore,” tambah Asrul.

Menurut Asrul, pengakuan negara atas jasa Sultan Zainal Abidin Syah bukan hanya penghormatan terhadap satu sosok, tetapi juga pengakuan atas peran peradaban Tidore dalam sejarah Indonesia.

“Bagi kami, Sultan Zainal Abidin Syah bukan hanya nama besar, tapi jiwa kolektif orang Tidore simbol keberanian, kebijaksanaan, dan pengabdian tanpa batas kepada bangsa,” tegasnya.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ini menjadi momentum penting bagi generasi muda Moloku Kie Raha.

Semangat Sultan Zainal Abidin Syah diharapkan menjadi inspirasi untuk meneladani nilai keberanian, kejujuran, dan tanggung jawab dalam menjaga persatuan bangsa serta kecintaan terhadap tanah air.

“Semoga semangat Sultan Zainal Abidin Syah terus hidup dalam jiwa generasi muda Tidore dan Maluku Utara. Inilah sejarah yang tak boleh kita lupakan,” tutup Kapita Tahane Asrul Rasyid Ichsan.

Nama Sultan Zainal Abidin Syah kini kembali menggema setelah pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.

Lahir di Soa-Sio, Tidore, pada 5 Agustus 1912, Zainal Abidin Syah tumbuh dalam tradisi istana dan nilai perjuangan leluhur Kesultanan Tidore yang sarat semangat kebangsaan.

Ia menempuh pendidikan di sekolah Belanda di Ternate, Batavia, dan Makassar, sebelum meniti karier sebagai pegawai negeri pada masa kolonial.

Meski berstatus birokrat, darah perjuangan tetap mengalir kuat. Saat pendudukan Jepang, ia menentang kebijakan yang menindas rakyat dan sempat diasingkan ke Halmahera. Pengalaman itu menempanya menjadi pemimpin teguh dan berprinsip.

Pada 1947, Zainal Abidin Syah dinobatkan sebagai Sultan Tidore di tengah masa genting transisi pasca kolonial. Di tangannya, Kesultanan Tidore tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga benteng politik dan diplomasi Nusantara Timur.

Salah satu babak penting sejarah Indonesia Timur terjadi ketika Sultan Zainal Abidin Syah memperjuangkan agar Irian Barat (Papua) menjadi bagian dari NKRI.

Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden No. 142 Tahun 1956 menunjuknya sebagai Gubernur Provinsi Perjuangan Irian Barat, menegaskan peran Tidore dalam geopolitik nasional. Ia juga mendukung penuh Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda.

Sultan Zainal Abidin Syah wafat pada 4 Juli 1967 di Ambon dan dimakamkan di Kedaton Kesultanan Tidore, Soa-Sio. Perjuangannya sempat terbenam dalam catatan sejarah nasional, namun semangat rakyat Tidore tidak pernah padam memperjuangkan pengakuan atas jasa besar sang Sultan.

Akhirnya, pada 10 November 2025, pemerintah Indonesia resmi menetapkan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 116/TK/Tahun 2025. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *