Penulis: Dr.Mukhtar Adam
Dunia akademik Universitas Khairun sedang berduka. Dalam waktu yang berdekatan, kita kehilangan dua sosok dosen terbaik, dua insan ilmuwan pada usia produktif, saat gagasan masih bertunas, karya masih menunggu disempurnakan, dan generasi muda masih sangat membutuhkan sentuhan bimbingan.
Kepergian almarhum Dr. Wildan, dosen Fakultas Sastra, dari kabar bencana laut di perairan Bibinoi dan Pigaraja, disertai proses pencarian yang tak berujung hingga kini jasadnya tak ditemukan, bukan sekadar tragedi personal.
Ia adalah luka kolektif bagi dunia akademik dan masyarakat kepulauan. Sebuah cermin rapuhnya pembangunan wilayah pulau-pulau kecil, potret telanjang ketimpangan infrastruktur antar pulau, dan realitas kebencanaan yang masih menjadi bayang-bayang hidup masyarakat gugus pulau Halmahera Selatan.
Ironinya sunyi, namun keras Seorang ilmuwan kebudayaan yang menyeberangi pulau ke pulau untuk mencari sumber, menelusuri jejak sejarah, mengurai makna identitas, dan membangun metodologi untuk mengungkap yang tersembunyi di balik budaya, harus mengakhiri perjalanan hidupnya di laut yang ganas.
Di antara pulau-pulau yang menjadi objek risetnya, tubuhnya tak ditemukan, meski ilmunya tetap terbaca, memberi pesan tubuh seorang ilmuwan bisa hilang, tetapi pengetahuan yang ia tinggalkan menolak tenggelam.
Bagi masyarakat pulau, laut adalah paradoks abadi. Ia adalah jalan penghubung kehidupan, kapal menjadi nadi yang menyatukan ekonomi, budaya, dan keluarga, namun pada saat yang sama, laut juga menyimpan risiko kematian.
Dr. Wildan, yang meneliti masyarakat yang hidup di antara pulau dan laut, akhirnya menjadi bagian dari narasi itu sendiri. Sejarah tidak hanya ia tulis, tetapi juga ia masuki dengan seluruh tubuh dan hidupnya.
Di titik ini, kematian Dr. Wildan tidak lagi berdiri sebagai peristiwa individual. Ia menggugat kesadaran bersama, negara, akademisi, dan universitas. Bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada angka statistik, laporan proyek, dan dokumen perencanaan, sementara keselamatan manusia termasuk para ilmuwan masih dipertaruhkan oleh sistem transportasi laut yang rapuh dan abai.
Universitas Khairun kehilangan sosok ilmuwan yang tumbuh dari riset lapangan, dari peluh perjalanan, dari kesabaran membaca tanda-tanda sosial yang tak selalu ramah pada teori. Ia bukan hanya pengajar di ruang kelas, tetapi penghubung antara teks akademik dan realitas hidup masyarakat pulau.
Sebuah perjalanan intelektual yang harus terhenti di tengah laut, menyadarkan kita dengan getir bahwa ilmu setinggi apa pun tetap berpijak di atas rapuhnya kehidupan manusia. Dan justru dari kerapuhan itulah, ilmu memperoleh maknanya.
Belum sempat luka itu mengering, datang kabar wafatnya Kandidat Doktor Muksin N. Bailusy, S.E., M.Si, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun. Seorang akademisi produktif, pemimpin yang memimpin dengan hati, dan penggerak perubahan kultur akademik.
Di penghujung pengabdiannya sebagai dekan, almarhum justru sedang merintis gagasan besar tentang budaya akademik berbasis pulau, sebuah cita tentang universitas kepulauan yang bertumbuh dari ilmu dan amal, yang berani mengurai problem kewilayahan, keilmuan, dan praksis ekonomi dalam denyut dinamika global yang kian menekan wilayah pulau-pulau berpenghuni.
Ia tidak sekadar mengelola fakultas, tetapi sedang menulis arah. Bukan hanya mengatur administrasi, tetapi menanamkan makna.
Kepergiannya terasa seperti sebuah kalimat yang terputus di tengah paragraf penting, paragraf yang sedang menarasikan 69 pulau berpenghuni yang belum sepenuhnya hadir dalam spektrum ilmu pengetahuan.
Sebuah visi universitas kepulauan di Timur Indonesia yang masih ditulis dengan kesabaran, tetapi harus kehilangan penulis utamanya sebelum titik akhir tercapai.
Kematian sebuah jalan Perpindahan Alam dan Evolusi Jalan Khalifah, dalam perspektif agama, kematian bukan sekadar berhentinya fungsi biologis, melainkan proses berpindah alam, pergeseran fungsi ruh dari dunia menuju alam kubur.
Ia adalah fase dari evolusi jalan seorang khalifah, dari amanah dunia menuju pertanggungjawaban akhir.
Allah berfirman dalam QS. Ali ‘Imran: 185, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” Ayat ini bukan ancaman, melainkan penegasan ontologis, hidup adalah pinjaman waktu. Setiap manusia tanpa kecuali, sedang menunggu jadwalnya masing-masing.
Kita semua, sadar atau tidak, berdiri dalam satu antrean kubur yang sama, antrean yang tidak mengenal kasta, jabatan, gelar akademik, atau reputasi intelektual. Berilmu atau tidak, Menjabat atau tidak, Dekan atau mahasiswa. Semua akan tiba pada satu titik yang sama.
Karena itu, agama menggeser ukuran keberhasilan hidup bukan panjang usia, tetapi panjang manfaat.
Rasulullah bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Dalam ukuran ini, dosen bukan sekadar pekerja akademik, melainkan penjaga peradaban ilmu. Ia bukan hanya pengajar, tetapi penanam nilai, pembentuk nalar, dan penjaga nurani intelektual.
Ketika seorang dosen wafat, yang hilang bukan hanya individu, tetapi juga jam-jam kuliah yang tak sempat disampaikan, riset yang belum dituliskan, mahasiswa yang belum selesai dibimbing, dan nilai-nilai keilmuan yang masih hidup dalam dirinya.
Dua Sososk Produktif dan Misteri Takdir
Yang paling mengguncang batin adalah fakta bahwa keduanya wafat pada usia produktif, saat universitas justru sedang berbenah, mempersiapkan masa depan, meningkatkan kualitas SDM, dan memperkuat regenerasi dosen.
Di sinilah agama mengajarkan satu pelajaran mendasar produktif menurut manusia belum tentu panjang menurut takdir. Allah tidak menjanjikan usia panjang, tetapi menjanjikan keadilan waktu. Setiap orang diberi cukup waktu untuk menunaikan perannya dan ketika peran itu selesai, panggilan pulang datang tanpa menunggu kesiapan institusi, tanpa kompromi dengan rencana manusia.
Ini bukan hukuman, Bukan pula kebetulan. Ia adalah peringatan sunyi bahwa universitas tidak boleh bergantung pada individu, bahwa regenerasi bukan pilihan, melainkan kewajiban moral, dan bahwa ilmu harus diwariskan, bukan disimpan hingga ajal.
Duka ini tidak seharusnya berhenti pada air mata dan upacara belasungkawa. Ia harus menjadi muhasabah institusional yang jujur dan berani Apakah sistem kaderisasi dosen telah disiapkan secara serius? Apakah ilmu para senior sudah cukup terdokumentasi, dituliskan, dan diwariskan? Apakah kita terlalu sibuk dengan administrasi, hingga lupa bahwa ilmu adalah amanah yang tidak boleh ditunda?
Agama mengajarkan bahwa wafatnya orang berilmu adalah kehilangan besar. Dalam hadis disebutkan bahwa ketika seorang alim wafat, terjadi retakan dalam agama, retakan yang sulit ditutup, karena ilmu yang tidak diwariskan akan ikut terkubur.
Ilmu Harus Tetap Hidup, dengan kepergian Dr. Wildan dan Dr. Muksin N. Bailusy adalah duka mendalam, tetapi juga pesan sunyi bagi seluruh sivitas akademika Universitas Khairun Ilmu harus terus hidup, meski tubuh telah kembali ke tanah.
Semoga Allah menerima amal ibadah mereka, melapangkan kuburnya, dan menjadikan ilmu yang pernah diajarkan sebagai amal jariyah yang terus mengalir.
Dan semoga kita yang masih diberi waktu, tidak menunda kebaikan, tidak menunda menulis, tidak menunda membimbing, dan tidak menunda menyiapkan generasi,
karena tak seorang pun tahu kapan namanya dipanggil dalam antrean pulang.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
