Aksi Brutal di Sagea: Operator Excavator PT MAI Tabrak Dua Mobil Warga, PSMP Malut Kecam Tindakan Premanisme

HALTENG, FORES INDONESIA-Investasi di daerah semestinya membawa kesejahteraan bagi masyarakat, bukan ketakutan. Namun, peristiwa di Desa Sagea, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, menjadi bukti betapa hubungan antara perusahaan tambang dan warga masih jauh dari kata harmonis.

Salah satu perusahaan tambang, PT Mahakarya Abadi Indonesia (MAI), diduga melakukan tindakan brutal terhadap warga setempat. Dalam dua video berdurasi masing-masing 1 menit 40 detik dan 2 menit 1 detik yang diterima media foresindonesia, terlihat ketegangan antara warga dan pihak perusahaan saat warga mempertanyakan penggunaan tanah milik mereka yang dijadikan akses menuju jetty perusahaan.

Awalnya, warga meminta agar aktivitas alat berat dihentikan sementara sampai ada kejelasan dari pihak manajemen. Namun, suasana berubah panas ketika seorang operator excavator justru mengarahkan alat beratnya dan menabrak dua unit mobil milik warga, menyeretnya hingga ke area pelabuhan, lalu merusaknya di depan umum.

Ironisnya, aksi itu tidak dihentikan oleh pihak keamanan perusahaan, bahkan disaksikan langsung oleh aparat yang bertugas di lokasi. Adegan yang semestinya dicegah justru menjadi tontonan.

Ketua DPD Pemuda Solidaritas Merah Putih (PSMP) Maluku Utara, Mudasir Ishak, mengecam keras tindakan tersebut. Ia menilai, perusahaan telah mencoreng semangat investasi yang berkeadilan.

” Perusahaan harusnya membawa manfaat dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Tapi kalau justru berperilaku seperti preman, ini sudah masuk kategori intimidasi yang tak bisa ditoleransi,” tegas Mudasir kepada wartawan, Senin (13/10).

Nada serupa disampaikan Kasim, warga Desa Sagea yang menyaksikan langsung peristiwa itu.

“Kami sangat kecewa dan marah. Tindakan merusak mobil warga dengan excavator itu biadab. Masyarakat Sagea hanya menuntut haknya, bukan mencari masalah,” ujarnya dengan nada tegas.

Mudasir meminta Kapolda Maluku Utara agar memerintahkan Kapolres Halmahera Tengah menindak tegas pelaku serta meminta perusahaan mengganti kerugian warga.

“Jika kasus ini dibiarkan, kami bersama pemuda lingkar tambang siap melakukan konsolidasi untuk menghentikan aktivitas perusahaan di lokasi itu,” tukasnya.

Hingga berita ini diturunkan, PT. Mahakarya Abadi Indonesia belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut. Aparat kepolisian juga belum menyampaikan hasil penyelidikan di lapangan. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *