TERNATE, FORES INDONESIA-Unsur Pimpinan Generasi Muda Mathla’ul Anwar (Gema Mathla’ul Anwar) angkat bicara menanggapi isu politisasi yang membayangi proses pemilihan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Maluku Utara. Mereka menegaskan dukungan penuh bagi Rio Pawane sebagai calon pemimpin yang kompeten, menepis desakan agar ia mundur dari pencalonan.
Isu yang berkembang belakangan ini menyebut HIPMI Maluku Utara terancam dipolitisasi. Menanggapi hal itu, Gema Mathla’ul Anwar menekankan bahwa HIPMI adalah lembaga profesional, bukan arena politik praktis.
“HIPMI adalah organisasi yang semestinya mengedepankan profesionalisme, integritas, dan visi nyata bagi pemberdayaan pengusaha muda. Tuduhan politisasi tanpa bukti hanya mengaburkan fokus kita: bagaimana HIPMI bisa mempercepat akselerasi organisasi di Maluku Utara,” ujar Setiawan, selaku Pimpinan Gema Mathla’ul Anwar, dalam pernyataannya. Kamis (2/10).
Lebih lanjut, Setiawan menjelaskan bahwa kepemimpinan figur yang memiliki jabatan publik justru dapat menjadi nilai tambah bagi organisasi. Menurutnya, pengalaman dalam pengelolaan, jaringan yang luas, dan pemahaman akan prioritas publik adalah aset berharga.
“Orang yang sudah memiliki jabatan publik tentu memiliki pengalaman pengelolaan, jaringan, dan pemahaman akan prioritas publik. Semua itu adalah aset yang bisa mempercepat pembangunan kapasitas HIPMI, daripada harus merintis dari nol dan dengan kandidat yang belum teruji,” jelasnya.
Dalam konteks ini, Setiawan menegaskan bahwa Rio Pawane adalah kandidat yang memenuhi kriteria kepemimpinan yang diharapkan. Ia dinilai kompeten, mampu membagi waktu antara tugas publik dan organisasi, serta memiliki rekam jejak yang mendukung profesionalitas HIPMI.
“Kami menilai bahwa Rio Pawane punya kualitas untuk membawa HIPMI Malut melangkah lebih jauh tidak hanya sebagai organisasi pengusaha muda, tetapi sebagai katalis pertumbuhan ekonomi lokal,” tambah Setiawan.
Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) HIPMI Maluku Utara tahun 2025, Gema Mathla’ul Anwar mengimbau semua pihak untuk menjaga suasana demokratis. Mereka mendorong agar debat gagasan dan visi menjadi pemicu kemajuan, bukan dengan mempolitisasi organisasi.
“Kita semua ingin HIPMI Malut kuat, independen, dan fokus pada pemberdayaan ekonomi dan wirausaha. Hindari klaim-klaim yang mereduksi kredibilitas calon berdasarkan asumsi, bukan fakta,” tutup Setiawan. (Tim)
