Hijrahlah ke Halmahera

Penulis: Dr.Adnan Machmud, S.Ag, MA  (Sekretaris ISNU Maluku Utara)

Hijrah adalah pelajaran abadi tentang transformasi. Ia bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah langkah besar meninggalkan kota lama untuk membangun peradaban baru.

Catatan sejarah manusia mengenal satu contoh transformasi kota yang paling dahsyat dan berdampak, yakni hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah. Inilah perpindahan yang tidak hanya mengubah arah dakwah, tetapi juga menggeser pusat peradaban dan membuka ruang baru bagi kemajuan umat.

Hijrah adalah strategi, keberanian, dan keputusan visioner untuk meninggalkan zona nyaman demi merebut masa depan. Pelajaran inilah yang relevan bagi masyarakat Kie Raha hari ini, ketika pola pemukiman dari pulau-pulau kecil yang nyaman mulai bergerak menuju pulau besar yang menawarkan peluang perubahan lebih luas.

Mekkah adalah kota lama yang agung: kota sejarah, kota suci, pusat ritual, pusat ekonomi kafilah, dan identitas bangsa Arab.

Namun dalam konteks dakwah awal Islam, Mekkah memiliki ruang sosial yang sempit, kekuatan ekonomi yang terkonsentrasi di tangan elit, serta hambatan politik yang membuat tatanan baru sulit tumbuh. Mekkah tetap mulia, tetapi ia tidak menyediakan ruang cukup bagi perubahan besar. Banyak kota yang berjaya dalam sejarah mengalami nasib serupa indah, penuh kisah, namun tidak lagi kompatibel dengan dinamika masa depan.

Rasulullah kemudian memilih Madinah yang dulunya Yatsrib bukan karena kekayaannya, bukan karena ketenarannya, melainkan karena kota itu menyediakan peluang perubahan.

Madinah memiliki struktur sosial yang lebih terbuka, politik yang lebih fleksibel, masyarakat Ansar yang siap menerima gagasan baru, dan ruang tumbuh yang luas bagi generasi yang akan datang.

Dari kota inilah lahir pusat pemerintahan Islam, pusat pendidikan, pusat ekonomi inklusif, dan model kota modern pertama dalam sejarah Islam.

Hijrah mengajarkan bahwa kemuliaan spiritual tidak selalu berbanding lurus dengan ruang transformasi sosial dan ekonomi. Perubahan membutuhkan perpindahan. Transformasi menuntut keberanian meninggalkan yang lama demi membangun masa depan di ruang baru.

Pelajaran ini sangat relevan dengan transformasi Maluku Utara saat ini. Ternate, layaknya Mekkah, adalah kota dengan sejarah panjang, pusat perdagangan rempah, dan pusat budaya.

Namun ruang tumbuhnya kian terbatas, peluang ekonominya stagnan, dan daya dukung geografisnya hampir habis.

Halmahera, sebaliknya, adalah Madinah masa kini: ruang pertumbuhan baru, pusat industri dan logistik, pusat pemerintahan, dan tempat masa depan generasi muda dibentuk.

Pemindahan bandara representatif, penguatan pelabuhan logistik, koridor industri hilirisasi, serta pembangunan Sofifi sebagai pusat pemerintahan adalah bentuk “hijrah pembangunan”perpindahan akselerasi dari kota lama menuju pusat peradaban baru Maluku Utara.

Dalam konteks ini, generasi muda adalah Muhajirin zaman kini. Hijrah dahulu tidak dijalankan oleh mereka yang takut berubah, tetapi oleh pribadi-pribadi kuat yang berani membangun tatanan baru.

Milenial dan Gen-Z Maluku Utara harus mengambil peran serupa: berani meninggalkan romantisme kota lama, membuka diri terhadap peluang baru, dan membangun masa depan di Halmahera.

Ekonomi tidak menunggu, perubahan tidak menunggu, sejarah tidak menunggu. Mereka yang tidak bergerak akan ditinggalkan zaman sebagaimana mereka yang dahulu memilih bertahan dalam nostalgia Mekkah.

Hijrah adalah sunnatullah, hukum perubahan yang berlaku bagi setiap peradaban. Tidak ada kemajuan tanpa perpindahan, dan tidak ada transformasi tanpa keberanian memulai dari tempat baru. Seperti hijrah yang memindahkan pusat peradaban Islam dari Mekkah ke Madinah, transformasi Maluku Utara kini menggeser pusat gravitasi ekonomi dari Ternate ke Halmahera.

Ternate akan tetap menjadi kota sejarah dan kota yang mulia, sebagaimana Mekkah tetap menjadi tanah haram yang agung. Namun masa depan seperti Madinah sedang dibangun di Halmahera.

Kisah hijrah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa perubahan besar hanya lahir dari keberanian meninggalkan kota lama untuk membangun kota baru.

Ketika Maluku Utara memasuki babak baru pembangunan di Halmahera, generasi mudanya harus tampil sebagai pelaku hijrah, bukan penonton nostalgia. Karena masa depan tidak dibangun oleh mereka yang menoleh ke belakang, tetapi oleh mereka yang berani berjalan ke depan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *