Halmahera Barat, Fores Indonesia — Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Maluku Utara tengah membangun breakwater atau pemecah ombak di Desa Toniku, Kecamatan Jailolo Selatan, Kabupaten Halmahera Barat. Infrastruktur ini bertujuan melindungi kawasan pemukiman, pesisir, aktivitas nelayan, serta fasilitas umum dari ancaman gelombang pasang dan abrasi pantai.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) Provinsi Maluku Utara, Muhammad Yunus, S.T., M.Eng., mengatakan pembangunan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan wilayah pesisir.
“Breakwater Toniku diharapkan mampu menahan energi gelombang besar, mengurangi abrasi, dan memberikan perlindungan bagi permukiman, fasilitas umum, serta perahu nelayan,” ujarnya.
Proyek dengan panjang sekitar 300 meter itu dikerjakan oleh Satker PJSA Maluku Utara dan ditargetkan rampung pada akhir tahun 2025. Desa Toniku dipilih sebagai lokasi prioritas karena tingkat kerentanan pantai yang cukup tinggi terhadap gelombang laut.
Pembangunan tersebut berawal dari usulan Pemerintah Desa Toniku yang diajukan ke Kementerian Sekretariat Negara RI pada 2023 melalui Kepala Desa M. Asgar Hi. Muin, S.Sos.. Usulan itu kemudian ditindaklanjuti oleh Kementerian PUPR melalui BWS Maluku Utara, hingga akhirnya proyek konstruksi resmi dimulai pada September 2025.
Kepala Desa Toniku, M. Asgar Hi. Muin, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat.
“Alhamdulillah, berkat usaha dan doa masyarakat, pembangunan pemecah ombak ini akhirnya terlaksana. Kami berharap infrastruktur ini benar-benar menjadi pelindung bagi desa dan nelayan kami,” katanya.
Selain memberikan perlindungan dari abrasi, proyek tersebut juga memberikan dampak ekonomi dengan melibatkan tenaga kerja lokal. Pemerintah berharap pembangunan Breakwater Toniku dapat menjadi benteng baru pesisir Halmahera Barat sekaligus bukti kehadiran negara dalam melindungi kehidupan masyarakat pesisir Maluku Utara. (Fi/Tim)
