Rizal Marsaoly, Inisiator Pembangunan Kota Pulau

 

DR. Mukhtar Adam

Sebagai kota kepulauan, Kota Ternate tidak dapat dipahami hanya sebagai wilayah administratif yang bertumpu pada satu pusat aktivitas.

Karakter kota pulau justru menuntut desain pembangunan yang tersebar, seimbang, dan saling terhubung antarwilayah.

Dalam kerangka itulah gagasan pembangunan kota pulau di Ternate menemukan relevansinya, terutama melalui pendekatan yang menempatkan pelabuhan sebagai simpul utama kehidupan ekonomi dan mobilitas masyarakat.

Dalam konteks ini, peran Sekretaris Kota Ternate, Rizal Marsaoly menjadi menarik untuk dibaca. Respons cepatnya terhadap polemik pemindahan aktivitas kapal dari Pelabuhan Mudaffar Syah memperlihatkan bahwa persoalan pelabuhan tidak semata urusan teknis kepelabuhanan, tetapi menyangkut keseimbangan struktur ekonomi kota.

Bagi kota pulau seperti Ternate, pelabuhan adalah lebih dari sekadar tempat sandar kapal. Ia merupakan pintu masuk arus manusia, barang, dan jasa yang membentuk ritme ekonomi kota.

Karena itu, keberadaan tiga simpul utama Pelabuhan Ahmad Yani, Pelabuhan Bastiong, dan Pelabuhan Mudaffar Syah harus dilihat sebagai sistem yang menjaga keseimbangan pertumbuhan antara kawasan utara, tengah, dan selatan kota.

Ketika salah satu simpul ini melemah, maka keseimbangan ruang kota ikut terganggu. Aktivitas ekonomi akan menumpuk pada satu titik, sementara kawasan lain berpotensi menjadi pinggiran yang kehilangan denyut ekonominya.

Inilah yang coba dijaga ketika Pemerintah Kota Ternate memastikan fungsi Pelabuhan Muddafar Syah tetap berjalan sebagai pintu ekonomi bagi wilayah utara kota.

Langkah tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Rizal Marsaoly merupakan bagian dari generasi birokrat perencana yang tumbuh dari tradisi perencanaan daerah di Ternate sejak masa pemerintahan Syamsir Andili.

Pengalamannya di lingkungan Bappeda membuatnya memahami bahwa tantangan utama kota pulau bukan sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi memastikan pertumbuhan itu tersebar secara adil di seluruh kawasan kota.

Dalam perspektif pembangunan wilayah, menjaga fungsi pelabuhan bukan hanya soal transportasi laut. Ia adalah bagian dari desain ekonomi kota pulau yang bertumpu pada beberapa simpul aktivitas yang saling menopang.

Karena itu, mempertahankan fungsi Pelabuhan Mudaffar Syah bukan sekadar mempertahankan dermaga. Ia adalah upaya menjaga ekosistem ekonomi kawasan utara, sekaligus memastikan bahwa Ternate tidak dibangun dengan logika satu pusat dan banyak pinggiran.

Pada akhirnya, pembangunan kota pulau membutuhkan sensitivitas spasial dan keberanian kebijakan untuk menjaga keseimbangan antarwilayah.

Dalam konteks itulah, langkah cepat Rizal Marsaoly dapat dibaca sebagai bagian dari upaya mempertahankan fondasi konseptual Ternate sebagai kota pulau kota yang hidup dari jaringan simpul-simpul ekonominya, bukan dari penumpukan aktivitas pada satu pusat saja. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *