TERNATE, FORES INDONESIA- Kinerja Kepala Bea dan Cukai Ternate, Jaka Riyadi, kembali jadi sorotan publik.
Selama dua tahun terakhir, lembaga ini dinilai gagal menjalankan fungsi pengawasan dan pengumpulan pendapatan secara efektif.
Direktur Lembaga Pengawasan Independen (LPI) Maluku Utara, Rajak Idrus, menegaskan Bea dan Cukai Ternate seharusnya menjadi garda terdepan dalam pengawasan perdagangan, terutama di wilayah kepulauan yang rawan pelanggaran hukum.
Namun kenyataannya, menurut Rajak, instansi ini justru menunjukkan kinerja timpang.
“Kami menilai instansi ini gagal menjalankan tugasnya sebagai pengumpul pendapatan sekaligus pelindung masyarakat. Terlalu banyak masalah terjadi, mulai dari minimnya transparansi hingga dugaan korupsi, khususnya dalam kegiatan ekspor-impor bahan tambang,” ujar Rajak kepada media ini, Selasa (2/12/2025).
Rajak menambahkan, petugas Bea dan Cukai lebih sibuk menyita rokok ilegal dan miras oplosan dari kios dan toko kecil, ketimbang menutup jalur utama masuknya barang ilegal, terutama di kawasan pertambangan.
Selain itu, banyak dugaan praktik kotor oknum petugas dalam mengotak-atik penerimaan kepabeanan dan cukai.
LPI Malut mendesak Menteri Keuangan dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai segera melakukan monitoring, evaluasi menyeluruh, serta audit kinerja Kepala Bea dan Cukai Ternate.
Langkah ini dianggap krusial agar UU Kepabeanan dan Cukai dapat dijalankan secara efektif, meningkatkan pendapatan negara, dan menjaga integritas aparat di lapangan. (Tim)
